Loading...
Senin, 01 Maret 2010

Menjadikan Tidur Sebagai Ibadah

Tidak ada aktivitas yang paling menyita waktu kecuali tidur. Umumnya sepertiga waktu manusia dihabiskan untuk tidur. Alokasinya lebih banyak dibanding waktu untuk bekerja, belajar, bermain, atau menjalankan ibadah ritual. Ada sebuah hitung-hitungan menarik dari Imam Al-Ghazali. "Andai seseorang tidur selama 8 jam sehari, maka dalam usia 60 tahun, ia telah tidur selama 20 tahun. Tinggal usianya 40 tahun digunakan antara beribadah, bermain, melakukan kesia-siaan, dan maksiat".

Tidur adalah tanda kebesaran sekaligus nikmat yang Allah SWT karuniakan pada manusia. Difirmankan, Dan di antara ayat-ayat-Nya adalah tidur kamu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian  itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan (QS Ar-Ruum [30]: 23).


Ada banyak hikmah dari tidur. Dengan tidur kesehatan tubuh manusia terjaga. Dengan tidur pikiran manusia yang kusut bisa jernih kembali. Dengan tidur pula manusia bisa bermimpi. Dan mimpi adalah salah satu  kebesaran Allah sekaligus tanda-tanda kenabian. Rasulullah SAW bersabda,  tidak ada yang tertinggal dari kenabian kecuali kabar baik. Dan kabar baik itu adalah mimpi yang baik" (HR Bukhari).

Karena itu, tidak mungkin ada manusia yang tidak pernah tidur. Semua pasti membutuhkan tidur, walau intensitasnya berbeda-beda. Bayi misalnya, saat baru dilahirkan membutuhkan tidur sekitar 14 sampai 16 jam, sebab tubuhnya sedang berkembang cepat sehingga mudah lelah. Setelah berusia enam bulan dia akan tidur selama 12 sampai 13 jam sehari. Orang dewasa biasanya tidur antara 7 sampai 8 jam sehari, atau kurang dari jumlah itu. Demikianlah, tidur adalah kebutuhan primer manusia. Sama halnya dengan kebutuhan manusia terhadap udara, air, makanan, atau pakaian.

Tidur hakikatnya adalah kematian yang tertunda. Begitulah Al-Quran memberitakan. Dalam QS Az-Zumar [39] ayat 42 Allah SWT berfirman,
"Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan memegang jiwa (orang yang belum mati) di waktu tidurnya. Maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan kembali jiwa orang (yang tidur, menjadi hidup kembali ketika bangun) sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang mau berpikir."

Apa makna ayat ini? Allah SWT menempatkan nafs atau nyawa dalam wadah yang tidak kekal. Wadah tersebut bernama badan (jasmani). Bila wadah tersebut rusak, hingga menimbulkan kematian, maka Allah SWT akan memisahkan nafs tersebut dengan pemisahan yang sempurna. Dalam tidur pun terjadi pemisahan, tetapi pemisahannya tidak sempurna. Karena itu, nafs (nyawa) bagi yang tidur akan kembali pada wadah yang menampungnya. Sehingga ia dapat bangun kembali sampai tiba masa pemisahan yang sempurna saat kematiannya. Demikian komentar Dr Quraish Shihab tentang ayat tersebut.

Rasulullah SAW pun dalam beberapa hadisnya mempersamakan tidur dengan  kematian. Ketika hendak tidur misalnya, beliau selalu berdoa, "Ya Allah dengan nama-Mu aku hidup dan mati" (HR Bukhari). Saat terjaga beliau pun membaca doa yang hampir serupa, "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami dibangkitan" (HR Bukhari dan Muslim).

Tidur adalah kematian yang tertunda. Tidur menghabiskan sepertiga waktu hidup kita. Alangkah ruginya bila waktu yang melimpah tersebut kita sia-siakan begitu saja. Setidaknya ada dua hal yang layak kita lakukan. Pertama, meniatkan tidur sebagai ibadah. Niat adalah faktor fundamental dalam setiap gerak langkah seorang Muslim. Baik tidaknya sebuah amal sangat dipengaruhi lurus tidaknya niat yang di-azzam-kan dalam hati.

Ada sebuah hadis dari Umar bin Khathab: bahwa Rasulullah SAW bersabda,  "Semua amal perbuatan bergantung pada niat, dan setiap orang akan memperoleh pahala sesuai dengan niatnya." (HR Bukhari). Tidur kita insya Allah akan bernilai ibadah apabila diniatkan sebagai ibadah dan sarana syukur. Sebaliknya, tidur bisa menjadi dosa bila diniatkan untuk maksiat. Tidur kita pun tidak akan bernilai apa-apa di hadapan Allah bila kita memaknainya sekadar aktivitas harian belaka.


Kedua, melakukan persiapan sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ada sebuah riwayat dari Bara' bin Azib, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apabila kamu mendatangi tempat pembaringanmu maka berwudhulah seperti wudhumu untuk shalat, kemudian berbaringlah di
> atas sisi kananmu kemudian ucapkanlah: 'Ya Allah, sesungguhnya aku  menyerahkan hidupku kepada-Mu, dan aku hadapkan wajahku kepada-Mu, dan aku pasrahkan urusanku kepada-Mu, dan aku perlindungkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat keselamatan dan perlindungan dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku berlindung kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan nabi-Mu yang telah Engkau utus'.

Jika kamu mati malam itu, maka kamu berada di atas fitrah dan  jadikanlah ia sebagai akhir dari apa yang kamu ucapkan." (HR Bukhari,  Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah). Dalam hadis ini, Rasulullah SAW menjelaskan adab-adab standar yang harus dilakukan  seorang Muslim tatkala hendak tidur. Diawali dengan berwudhu  (membersihkan diri dan hati dari segala kotoran dan dosa), kemudian berbaring di atas sisi kanan badan, lalu berzikir dan mengucapkan doa kepada Allah.

Hadis ini pun menyiratkan sebuah pesan tentang lemahnya manusia. Dan kelemahan tersebut makin terlihat saat ia tidur. Ia tidak sadar akan situasi di sekitarnya. Ia pun tidak lagi mampu menghindar dari bahaya sekecil apa pun. Sehingga ia wajib "menitipkan" penjagaan dirinya kepada Allah, Dzat yang menguasai hidup dan matinya.

empat amalan sebelum tidur
Berkaitan dengan persiapan menjelang tidur. Rasulullah SAW pernah pula  berwasiat kepada istrinya, Siti 'Aisyah. Rasul bersabda, "Wahai 'Aisyah, janganlah engkau tidur sebelum engkau lakukan empat hal: mengkhatamkan Alquran, memperoleh syafaat dari para nabi, membuat hati kaum Mukminin dan Mukminat senang dan ridha kepadamu, serta melakukan haji dan umrah."

'Aisyah bertanya, "Ya Rasul, bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sebelum tidur?" Rasulullah SAW menjawab, "Sebelum tidur, bacalah Qul huwallahu ahad tiga kali. Itu sama nilainya dengan mengkhatamkan Alquran". Yang dimaksud dengan Qul huwallahu ahad adalah seluruh surat Al-Ikhlas, bukan ayat pertamanya saja. Dalam banyak hadis, sering kali suatu surat disebut dengan ayat pertamanya.

Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya, "Kemudian agar engkau mendapat syafaat dariku dan para nabi sebelumku, bacalah shalawat: Allahumma shalli 'alÆ’ Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama shalayta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim. Allahumma barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama barakta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim fil 'alamina innaka hamidun majid." "Sebelum tidur, hendaknya kamu lakukan haji dan  umrah." Bagaimana caranya? Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang membaca subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha ilallah huwallahu  akbar, ia dinilai sama dengan orang yang melakukan haji dan umrah".

Niat dan ikhtiar (berupa persiapan) bagaikan dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Tidak akan sempurna yang satu tanpa pelaksanaan yang lain. Akhirnya, semoga kita bisa mengamalkannya, sehingga tidur kita menjadi bagian dari pengabdian diri pada Allah SWT. Wallahu a'lam bish-shawab.



Reaksi: 

Bintang:

{[['']]}

Sukai:

Bagikan:

0 komentar:

Posting Komentar

 
TOP