Loading...
Selasa, 09 November 2010

Archaeopteryx Itu Burung Tulen!

Archæopteryx (“sayap kuno”) merupakan salah satu burung tertua yang hidup di Zaman Jurassic, sekitar 150-140 juta tahun lalu. Archæopteryx pertama kali ditemukan pada tahun 1860 yang kemudian dipaparkan setahun berikutnya oleh V H. Meyer. Banyak riset yang menunjukkan bahwa Archæopteryx itu benar-benar merupakan burung tulen alias burung sejati, berasal dari kelas aves. 

Archæopteryx yang ditemukan di Jerman ini  adalah spesies burung yang sudah punah dengan beberapa karakteristik unik yang berbeda dengan burung biasanya yang hidup sekarang ini, seperti cakar, gigi, dan ekor panjang. Gambaran primitif,  bahkan spekulasi peralihan atau burung-dino pada burung yang memiliki panjang 30 cm ini tidaklah sesuai. Archæopteryx seutuhnya adalah burung terbang dan suka bertengger di pohon, layaknya banyak burung masa kini.

Ahli burung terkenal dari University of North Carolina, Dr. Alan Feduccia, bahkan berkomentar, "Kebanyakkan para peneliti yang telah mempelajari berbagai fitur anatomi Archæopteryx, menyimpulkan bahwa hewan ini adalah burung lebih dari apa yang dibayangkan, dan kemiripan Archæopteryx dengan dinosaurus theropoda adalah berlebihan." (Alan Feduccia, The Origin and Evolution of Birds, Yale University Press, 1999, p. 81 Emphasis added).

reptilka Archæopteryx di Museum Geologi Bandung

Ahli anatomi Dr. David Menton juga ilmuwan Henry Morris dan John Morris yakin Archæopteryx adalah bukan hewan peralihan ataupun dinaurus berbulu, melainkan seutuhnya adalah burung, karena banyak faktor menunjukkan kalau mereka itu adalah seekor burung. Sementara ahli anatomi seperti S. Tarsitano, MK Hecht, dan AD Walker mengungkapkan bahwa beberapa "kesamaan" antara Archæopteryx dan dinosaurus sepenuhnya hasil dari salah tafsir.

Bulu
Struktur bulu yang ditemukan pada fosil Archæopteryx menegaskan mereka adalah seekor burung. Penutup tubuh mereka 100% membentuk bulu. Bulu adalah ciri khas dari kelas aves yang tidak di temukan di kelas-kelas lainnya dalam vertebrata. Bulu yang menyelimuti tubuh Archæopteryx adalah benar milik bulu burung. 

Carl O. Dunbar, Profesor Paleontologi dan Stratigrafi di Universitas Yale, menyatakan, "Karena bulu-bulunya, Archæopteryx jelas akan digolongkan sebagai burung." (Carl O. Dunbar, Historical Geology, New York: John Wiley and Sons, 1961, p. 310).

Bentuk bulunya menempel pada tulang oleh ligamen yang tumbuh dari folikel. Geometri bulu Archæopteryx yang asimetris berfungsi aeordinamis, ini sangat identik dengan burung terbang yang hidup saat ini. Struktur bulu Archæopteryx sangat fungsional dan sama dengan bulu modern, bahkan untuk tingkat mikroskopis. Bulu Archæopteryx yang tahan angin berfungsi untuk menjaga tubuhnya tetap hangat dan kering. Struktur bulunya sama sekali tak menunjukan bentuk setengah jadi atau tahap perkembangan dari sisik reptil. Bentuk rumit bulu ini telah ada sejak 150 juta tahun lalu, dan hingga sekarang tetap sama.

Dalam  sebuah artikel di American Zoology magazine, Larry Dean dan Stephen Czerkas menulis, "Fosil bulu tertua (Archæopteryx) yang telah diketahui adalah modern dalam bentuk dan detil mikroskopis."

Rincian bulu primer dari Archæopteryx spesimen Berlin adalah struktur modern. Atas: sebuah bagian irisan menunjukkan asimetris, rachis, dan barbs. Bawah: foto dari elektron mikroskop menunjukkan rachis, barbs, dan barbules.

Bentuk bulu Archæopteryx adalah sudah benar-benar rumit. Penyelidikan luas dari satu bulu Archæopteryx, sebuah awetan sempurna bulu sepanjang 69 mm dan berusia 150 juta tahun, adalah identik dengan semua rincian besar burung modern. Barbules dilengkapi dengan kait kecil yang mengunci ke barbs dan mengikat permukaan bulu menjadi baling-baling yang datar, kuat dan fleksibel. Poros pusat yang kuat untuk memberikan kekuatan aerodinamis mengasilkan baling-baling bulu ke tubuh, dan tidak akan mungkin jika bulu ini tidak memiliki fungsi mekanis. Lebih penting lagi, poros bulu diatur asimetris berlawanan baling-baling bulu. Ini akan memungkinkan bulu untuk mendistorsi optimal untuk mengimbangi kelenturan saat mengudara akibat beban aerodinamis, dan ini penting untuk meluncur dan kepakan terbang burung. Baling-baling bulu Archæopteryx yang berpola asimertris adalah sesuai dengan karakteristik burung terbang modern. Dengan ini, bulu Archæopteryx sepenuhnya fungsional aerodinamis.

Fitur bulu aeordinamis membuat burung falcon (Falcon pereginus) tidak kehilangan keseimbangan saat mengejar buruannya dengan kecepatan 384 km/jam. Struktur bulu burung terbang cepat adalah asimetris untuk sebagian besar. Pada burung tidak terbang atau burung terbang kurang cepat, bulu-bulu utama adalah simetris atau kurang asimetris.

Bulu pada sayapnya tumbuh dengan baik, memiliki pola dasar dan proporsi sayap burung masa kini. Ahli burung dari Amerika, Josselyn Van Tyne dan Andrew John Berger, menyebutkan bahwa dari segi bentuk dan ukuran, sayap Archæopteryx mirip dengan burung woodcock, coucals, magpies, woodpeckers, dan merpati. Bulu pada bagian sayap dan ekornya yang cukup besar sangat membantunya saat menukik atau terbang tinggi, seperti burung masa kini. Ini memberikan bukti bahwa Archæopteryx adalah seekor burung yang terbang.

Ahli fosil Robert Carroll mengatakan, "Geometri dari bulu terbang Archæopteryx adalah indentik dengan burung modern terbang, sementara burung yang tidak terbang adalah simetris. Penyusunan bulu sayapnya juga termasuk dalam burung modern. Bulu-bulu terbang tidaklah berubah sedikitnya 150 juta tahun." (Robert R. Carroll, Pola dan Proses of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, 1997, p. 280-81).

"Sulit untuk mengetahui bagaimana bulu bisa berfungsi hingga bentuk itu bisa mencapai ukuran besar seperti pada Archæopteryx." (Carroll, R., Patterns and Processes of Vertebrate Evolution, Cambridge University Press, New York, p. 314, 1997).

"Archæopteryx tak memberikan banyak informasi tentang asal muasal bulu burung, sebab bulu mereka sangat identik dengan burung yang hidup sekarang." (Zhang, F. and Zhou, Z., A primitive enantiornithine bird and the origin of feathers, Science 290:1955–1959, 2000; p. 1957).

"Analisis bulu Archæopteryx, sebuah awetan sempurna dari 150 juta tahun silam, menyimpulkan bahwa bagian kecil mereka percis sama dengan bulu burung hari ini." (W. P. Pycraft, Animal Life: an Evolutionary Natural History, Vol. II – A History of Birds, London: Methuen, 1910, p. 39).

Ahli burung Feduccia menyebutkan, "Archæopteryx memiliki bulu yang efesien aerodinamis, seperti burung modern. Bulu adalah ciri khas unik burung, dan tidak pernah diketahui struktur penengah antara sisik dan bulu."

Analisis warna juga dilakukan pada spesimen Archæopteryx dengan menggunakan teknologi pemindaian mikroskop elektron dan energi-dispersif analisis sinar-X. Dengan membandingkan struktur ini dengan burung modern terungkap bahwa struktur melanosomes bulu Archæopteryx hampir pasti memiliki bulu hitam. Melanosomes hitam ini memiliki sifat struktural yang akan memperkuat bulu untuk terbang, menguatkan argumen bahwa Archæopteryx adalah burung terbang.

Berdarah Panas
Fakta lain yang terungkap dari bulu Archæopteryx adalah bahwa hewan ini memiliki metabolisme berdarah panas. Sebagaimana telah diketahui, reptil  merupakan hewan berdarah dingin, yang artinya sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan, dan tidak dapat mengendalikan sendiri suhu tubuh mereka. Fungsi terpenting bulu burung adalah adalah sebagai isolator, mempertahankan dan menjaga suhu tubuh burung agar tetap hangat. Fakta bahwa Archæopteryx memiliki bulu menunjukkan bahwa makhluk ini benar-benar memiliki ciri burung  yaitu berdarah panas, berbeda dengan reptil yang bersisik dan berdarah dingin.

Alan Feduccia mengungkapkan, "Tak pernah ada bukti, bahkan hingga saaat ini, dinosaurus itu berdarah panas."

Tulang Berongga

Tubuh Archæopteryx banyak dibangun  rangka yang ringan dan berongga atau pneumatikal. Burung masa kini juga memiliki tulang berongga, tidak seperti hewan lainnya. Bentuk seperti ini tidak membuat tulangnya rapuh, tapi membuat burung memiliki banyak kehilangan berat sehingga memungkinkan untuk terbang.  Bobot tubuh Archæopteryx ini relatif kecil yaitu sekitar 11 sampai 18 ons atau hampir sama beratnya dengan dengan sekantong biji kopi.





Tulang Panggul
Pada awalnya, Archæopteryx diklaim memiliki tulang pubis yang menunjukke bawah, sebagai bentuk posisi perantara dinosaurus theropoda. Namun A.D. Walker dalam studi terbarunya menegaskan bahwa tafsiran itu sepenuhnya salah. Tulang pubis Archæopteryx strukturnya seperti posisi pada burung. Bentuk tulang panggul panjang Archæopteryx mengarah ke belakang sama seperti tulang panggul burung masa kini. Pemeriksaan lanjut oleh A.D. Walker dan Ruben, memberi kesimpulan bahwa panggul Archæopteryx disesuaikan seperti burung, membuktikan sesungguhnya Archæopteryx adalah bukan dinosaurus theropoda. Dinosaurus theropoda memiliki bentuk 'panggul kadal', sementara Archæopteryx memiliki bentuk 'panggul burung'.

Dari perbandingan tulang panggul burung bertengger modern dan Archæopteryx terungkap bahwa keduanya memiliki bentuk yang membantu pernapasan saat mereka bertengger, hypopubic cup-nya yang terbalik memungkinkan adanya daerah besar untuk otot suprapubik yang luas. Pubis Archæopteryx menandakan kesamaan dengan kondisi burung terbang modern, khususnya burung bertengger, dimana burung memiliki tanda opisthopuby, juga pinggangnya berada di belakang hingga ilium dan ischium. Rotasi otot suprapubik dari panggul memberikan gerakan ventral ekor, sebuah gerakan untuk membantu ventilasi paru-paru, terutama ketika burung bertengger berisitrahat di dahan pohon. Dengan ini, Archæopteryx akan memanfaatkan gerakan panggul dan ekor untuk membantu ventilasi  kantung-kantung udara saat mereka bertengger di pohon.  (J. J. Baumel, personal communication; J. A. Wilson, D. R. Bergren, J. Exp. Biol. 151, 263, 1990).


Kondisi panggul ini kontras berbeda ditunjukan pada morfologi panggul theropoda. Tulang panggul dari dinosaurus theropoda terlihat tidak seperti burung modern atau Archæopteryx, tetapi terlihat lebih mirip dengan reptil modern (seperti buaya, misalnya). Karena tidak ada "peralihan" dinosaurus theropoda yang memiliki struktur panggul mirip dengan Archæopteryx, tampaknya tidak mungkin bahwa mereka bisa memunculkan Archæopteryx. Tidak ada cara untuk panggul reptil modern atau dinosaurus theropoda untuk bertindak seperti apa yang dilakukan burung modern bertengger atau Archæopteryx.

Tulang Belakang 
Bentuk tulang belakang Archæopteryx yang tidak saling menyambung bisa kita jumpai pada pinguin. Bentuk tulang belakang yang menempel dari belakang ke kepala sama dengan beberapa burung masa kini seperti pinguin, bangau, burung unta, juga burung-burung prasejarah.

Tulang Leher
Archæopteryx memiliki 10-11 tulang leher atau tulang cervical vertebrae, dan berdasarkan hasil rekonstruksi menunjukkan fleksibilitas. Tulang leher Archæopteryx juga berongga dan berbentuk "s" dengan posisi tubuh condong ke belakang. Ini adalah bentuk yang terlihat pada burung modern, tapi tidak dinosaurus. Burung memiliki leher fleksibel karena mereka memiliki tulang leher lebih dari banyak vertebrata lainnya. Jumlah tulang vertebra yang banyak berarti terdapat lebih sendi yang memungkinkan setiap vertebra bergerak menempel dengan tulang vertebra berikutnya. Ini seperti rantai dimana setiap penyambungnya hanya memiliki batasan fleksibilitas sehingga banyak penghubung yang memberikan leher lebih fleksibel.

Burung mengunakan mulutnya untuk banyak hal, sementara binatang lain menggunakan tungkai depan atau tangannya. Karenanya burung pasti menggunakan leher meereka yang panjang dan elastis untuk membantu mencapai bagian tubuhnya. Burung kerap kali merapikan bulu-bulunya, dan leher yang elastis jelas akan membantu.


Bulu Kaki
Sebuah studi memeriksa morfologi dan fungsi bulu kaki Archæopteryx.  Nick Longrich dari  University of Calgary di Kanada telah meneliti bulu kaki pada lima fosil Archæopteryx dengan menggunakan mikroskop dan menemukan bahwa bulu itu memilikiciri khas bulu terbang pada burung modern, termasuk poros yang melengkung, pola tumpang tindih, dan bentuk asimetris. Bentuk ini memberikan gaya angkat sayap dan ekor, menunjukkan bahwa kakinya bertindak sebagai airfoil atau kerjang angin.

Dalam sebuah rekonstruksi baru Archæopteryx digambarkan bentuk kaki mereka sekitar 12% dari luas total airfoil. Kaki mereka dapat mengurangi kecepatan hingga 6% dan putaran radius hingga 12%.  Longrich menyatakan bahwa bulu kaki akan membantu Archæopteryx untuk terbang lebih lambat dan membuat berubah tajam.


Lebih tajam memberikan manufer lebih Archæopteryx saat mereka mengejar mangsa, menghindari kejaran predator, dan membantunya saat hendak terbang dari pohon. Dan kemampuan untuk terbang lebih lambat berarti Archæopteryx memiliki lebih banyak waktu untuk menghindari penghalang yang ada dan membuat pendaratan aman. Longrich menyatakan bahwa bulu kakinya mungkin juga membantu dalam peran lain dalam penerbangan. Seperti pada burung modern (misalnya merpati, kittiwakes, burung hantu, elang, dan burung pemakan bangkai), bulu kaki Archæopteryx berguna sebagai rem udara, pengatur keseimbangan, atau juga pengatur kepakan. 

Pergelangan Kaki
Ahli Ornitologi LD Martin, JD Stewart, dan KN Whetstone telah membandingkan tulang pergelangan kaki Archæopteryx dan dinosaurus dan mengungkapkan bahwa tidak ada kesamaan di antara keduanya. Pergelangan kaki Archæopteryx adalah tulang pretibial setipe dengan burung, membantu saat pendaratan.

Jari Kaki
Ahli burung Alan Feduccia membuat studi geometri cakar kaki burung dan dinosaurus. Ia menemukan kesimpulan bahwa gemoteri cakar Archæopteryx adalah cocok dengan geometri cakar dari burung pemanjat pohon seperi burung pelatuk. Sejumlah studinya juga mencatat bahwa perbandingan kelengkungan cakar kaki Archæopteryx dan kelengkugan cakar burung modern telah menegaskan bahwa mereka termasuk kategori burung bertengger.

Archæopteryx
memiliki tulang hallux atau ibu jari kaki yang saling berlawanan dengan tiga jari kaki lainnya, sehingga membantu mereka untuk bertengger di pohon. Tulang ibu jari kaki mereka juga besar. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa kelengkungan cakar kaki Archæopteryx jelas identik dengan kelengkungan cakar burung bertengger modern. Jenis kaki ini memberikan semacam "alat penguncian" yang membantu burung agar tetap terjaga di ranting pohon bahkan ketika tidur. Semua ini adalah karakter khas burung dan bukan milik dinosaurus theropoda. Dinosaurus tidak memiliki cakar yang menunjukkan mereka bisa memanjat pohon.

Kaki Archæopteryx memberikan bukti mereka adalah burung bertengger.
Alan Feduccia menyebutkan, "Kesimpulan dari ukuran cakar Archæopteryx adalah mereka burung bertengger. Archæopteryx memiliki ibu jari kaki besar di belakang dengan cakar kuat. Ini adalah model dari burung bertengger modern tetapi bukan dinosaurus theropoda."

Dr David Menton, dari Washington University School of Medicine di St Louis, Missouri, mengemukakan, "Archæopteryx beserta dengan semua burung bertengger, memiliki apa yang disebut semua burung bertengger, memiliki apa yang disebut genggaman hallux, menghadap ke belakang. Posisi jari kaki ini dapat ditemukan di beberapa dinosaurus tetapi tidak untuk genggaman hallux sejati dengan cakar melengkung untuk bertengger."

Pergelangan Tangan
Dinosaurus theropoda jarang memiliki tulang pergelangan tangan setengah sabit, yang diketahui hanya empat spesies. Kebanyakkan mereka memiliki elemen pergelangan tangan yang relatif besar. Para ahli burung seperti LD Martin, JD Stewart, dan KN Whetstone telah membandingkan tulang pergelangan tangan Archæopteryx dan dinosaurus dan mengungkapkan bahwa tidak ada kesamaan antara keduanya. Sulit untuk dihomologikan dengan Archæopteryx.

Ahli biologi Amerika Richard L. Deem mengungkapkan, "Sebagian besar dinosaurus theropoda kehilangan pergelangan tangan berbentuk semi sabit, dan memiliki sejumlah elemen besar pada pergelangan tangan lainnya yang tidak memiliki homologi dengan tulang-tulang Archæopteryx."

Rongga Tulang Lengan
Rongga tulang lengan pada bahu Archæopteryx mengarah ke luar. Ini adalah bentuk dari burung, sementara pada dinosaurus menunjuk ke bawah sebab kaki mereka terselip di bawah tubuh.

Sayap
Archæopteryx yang memiliki sayap besar dan bulu sempurna. Bulu pada sayap Archæopteryx terdiri atas bulu primer dan bulu sekunder yang akan membantunya saat terbang. Bulu-bulu sayap primer dan sekunder yang berturut-turut melekat pada tangan dan ulna. Bentuk sayap Archæopteryx membantu menghasilkan gaya angkat saat mereka menghentakan sayap.  Rincian anatomi baru dari beberapa spesimen Archæopteryx, termasuk spesimen London, menunjukkan adanya alula. Archæopteryx juga menunjukkan adanya sayap eliptikal klasik dari burung hutan modern. Desain ini sama dengan burung penerbang yang ada sekarang, dari sisi bentuk dan besar sayap Archæopteryx mirip dengan burung woodcock, coucals, magpies, woodpeckers, dan merpati. Sayap Archæopteryx memiliki otot deltoid dan lengan untuk mengepakan sayap saat terbang. Bentuk ini dirancang untuk lepas landas dan pendaratan yang cepat. Ideal untuk terbang kecepatan rendah, kemampuan gerakan yang sangat baik, dan sangat penting untuk perubahan arah cepat. Bentuk lengan, bahu, dan jarinya juga seperti burung masa kini.

Sayap Archæopteryx sepenuhnya adalah modern dan sangat fungsional dalam penerbangan. Ini sama sekali tidak memberikan sebuah petunjuk perkembangan dari tangan dinosaurus theropoda yang pendek.

Dr. Alan Feduccia mengatakan, "Archæopteryx memperlihatkan sayap epliptikal klasik dari burung hutan modern. Ini adalah rancangan sangan efisien untuk terbang dengan kecepatan rendah hingga sedang."

Sayap Bercakar
Burung Hoatzin muda
Cakar yang terdapat pada sayap Archæopteryx membuat mereka jadi terlihat berbeda dengan umumnya burung modern. Namun, burung masa kini, burung Hoatzin (Opisthocomus hoazin) dan burung Tauraco (Touraco corythaix) memiliki cakar di sayapnya. Cakar ini mereka gunakan utk berpengangan dengan ranting pohon. Cakar pada sayap Archæopteryx mirip dengan berbagai burung pemanjat pohon,  dan terasa berbeda dari cakar dinosaurus. Burung unta, angsa, ibis, dan burung lainnya pun memiliki cakar di sayap mereka. Mereka sama sekali tidak menjadi burung primitif ataupun burung transisi karena ciri ini.

Stuart Srahl dari New York Zoological Society's Wildlife Coservation International menyebutkan; "Beberapa orang menyebut burung Hoatzin primitif karena memiliki cakar seperti Archæopteryx, tapi saya pikir itu adalah 'burung khusus'. Sementara burung sivian, ibis, dan banyak burung lainnya juga memiliki sayap bercakar, tapi mereka tidak dikatakan primitif."

Cakar pada sayap burung unta

Alan Feduccia juga sependapat, dia menyatakan bahwa cakar sayap (cakar manus) Archæopteryx adalah bentuk adaptasi yang sempurna, sehingga memungkinkan mereka untuk memanjat pohon, bentuk cakar ini sangat mirip dengan cakar kaki pada burung pemanjat modern. Bukti ini memberikan petunjuk bahwa Archæopteryx adalah burung arboreal, seperti yang ada pada burung masa kini.

Alan Feduccia berkata, "Jika Anda membandingkan cakar burung woodcreeper dengan cakar sayap Archæopteryx, Anda akan kesulitan untuk membedakan keduanya!."

Cakar pada sayap Archæopteryx
Jari-jari Archæopteryx adalah sama dengan burung modern. Berdasarkan bukti embriologi, burung dan Archæopteryx telah kehilangan jari I dan V  (jempol dan kelingking), sehingga mereka memiliki formula jari II-III-IV. Dinosaurus theropoda awal memiliki tangan berjari lima dimana jari IV dan V-nya sangat kecil. Dinosaurus theropoda di masa berikutnya yang ada yang memiliki 3 jari dan 2 jari, sehingga mereka memiliki formula I, II, dan III.



Ahli burung Alan Feduccia pun berkomentar, "Bagaimana bisa sayap burung, misalnya, dengan berjari dua, tiga dan empat berevolusi dari tangan dinosaurus yang memiliki jari I-II-III? Itu hampir mustahil terjadi". (Feduccia, A. and Nowicki, J.,  The hand of birds revealed by early ostrich embryos, Naturwissenschaften  89:391–393, 2002; Williamson, D.,  Scientist says ostrich study confirms bird ‘hands’ unlike those of dinosaurs, UNC News Services 425, 26 August 2002).

Dinosaurus theropoda memiliki tangan yang kecil dibandingkan ukuran tubuhnya, sementara Archæopteryx memiliki tungkain depan/sayap besar yang sangat berguna untuk mengudara. Selain burung masa kini. burung prasejarah pun banyak dijumpai dengan fitur sayap bercakarnya, misalnya Confuciusornis, Hesperornis, dan Ichthyornis.

Confuciusornis
Otak
Pada tahun 2004, para peneliti menggunakan teknik-teknik pencitraan modern, computed tomography (CT) untuk melihat tengkorak untuk menganalisa otak dari spesimen Archæopteryx pertama. Dalam teknik ini komputer menggabungkan rangkaian gambar penampang datar untuk membuat model tiga dimensi struktur tubuh. Proses ini memungkinkan para ahli untuk melihat ke dalam tempurung otak hewan itu dan membuat rekonstruksi 3-D dari otak dan telinga bagian dalam. Telah diambil lebih 1.000 gambar x-ray. Dari sini, mereka dapat menyimpulkan seperti apa otak mereka. 

Diketahui Archæopteryx ternyata memiliki otak seperti burung, memiliki korteks cerebellum dan visual yang besar, berukuran tiga kali lebih besar dari dinosaurus yang seukuran dengannya, bentuk seperti ini bagus dalam penglihatan dan pengendalian gerakan, sangat identik dengan burung modern seperti elang, burung beo, atau burung gereja. Archæopteryx memiliki lobus optik besar untuk memproses input visual yang dibutuhkan untuk gaya hidup di udara dan memiliki lobus flokular guna keseimbangan.

Berbagai fungsi penting otak Archæopteryx.
Pterodactyl
"Ini menunjukkan ternyata Archæopteryx jauh lebih mirip burung daripada yang kita pikir," sebut Larry Witmer, dari Ohio University College of Medicine Osteopathic.  Sebelumnya, Witmer dan rekan-rekannya telah melakukan penelitian serupa pada fosil reptil terbang yang disebut Pterodactyl, yang tidak memiliki hubungan dengan Archæopteryx. Riset ini menunjukan bahwa Pterodactyl telah memiliki fitur otak yang sama seperti burung modern. Artinya, otak adalah merupakan pesyaratan minimum untuk kemampuan terbang.

Dr. Angela Milner dari London’s Natural History Museum mengatakan, "Kami sepenuhnya berharap untuk menemukan otak seperti dinosaurus. Sebaliknya, otak mereka benar-benar mirip burung." Dia menambahkan, "Jika Anda hendak terbang, Anda perlu pusat koordinasi dan pengaturan perintah yang sangat canggih. Kami sekarang dapat menunjukkan bahwa sistem otak dan sensor Archæopteryx adalah lengkap untuk terbang. Hasil scan otak pada dasarnya menunjukkan bahwa Archæopteryx memiliki semua struktur yang memungkinkan burung untuk terbang."

Lawrence M. Witmer dari Ohio University menerangkan, "Kami dulu berpikir bahwa hanya bulu membuat mereka menjadi burung itu," kemudian ia melanjutkan dengan mengatakan, "Anda telah menyimpan sebuah komputer besar untuk terbang."

Telinga Dalam
Telinga dalam adalah organ yang cukup berguna dalam memberikan keseimbangan dan membantu mengkoordinasikan gerakan mata, tetapi, tentu saja, telinga juga berguna untuk pendengaran. Koklea atau rumah siput adalah bagian pendengaran dari telinga dalam, informasi dari ukuran dan bentuknya dapat menjelaskan kemampuan mendengar, serta perilaku lainnya. Telinga bagian dalam terkubur jauh di dalam tengkorak, dan CT scan digunakan untuk mengintip kedalaman tengkorak. Sebuah inovasi teknologi modern yang memakai sinar-x ini memberikan visual tiga dimensi. Dari kajian ini tim ilmuwan menyebutkan bahwa struktur telinga dalam yang membantu mengatur keseimbangan pada Archæopteryx adalah sama dengan burung emu dan burung hantu.

Struktur telinga dalam Archæopteryx memiliki koklea panjang dan terusan propoprtions berbentuk setengah lingkaran yang sama terdapat pada burung modern terbang. Hewan dengan saluran koklea yang panjang cenderung memiliki pendengaran terbaik dan kemampuan vokal. Saluran koklea panjang juga merupakan indikator komunikasi vokal yang rumit pada individu, pendengaran terbaik, kehidupan berkelompok dan bahkan pemilihan habitat yang tepat.

Karakter ini membuktikan bahwa Archæopteryx memiliki indra pendengaran, keseimbangan, penglihatan, dan sistem syaraf sensorik yang dibutuhkan untuk terbang dengan baik, bertenaga, dan mengepak. Bentuk ini sangat berbeda dengan dinosaurus yang diketahui memiliki otak dan bentuk telinga dalam seperti buaya. Dengan ini, Archæopteryx jelas memiliki indra penglihatan tajam dan kemampuan mengatur keseimbangan yang terkoordinasi dengan baik saat terbang.


Rekonstruksi tiga dimensi telinga kanan Archæopteryx. Saluran berbentuk setengah lingkaran depan memanjang dan lentur seperti pada burung untuk meningkatkan ruang respon sensorik (keseimbangan dan posisi). Sebuah organ pendengaran (lagena), saluran kokleanya panjang, menunjukkan kemampuan pendengaran yang baik. Kedua fitur ini menambah bukti Archæopteryx adalah penerbang ulung.

Timothy Rowe, yang menjadi ketua unit CT scan di University of Texas, mengatakan, "Hewan ini memiliki mata yang besar dan wilayah citra besar dari bentuk otaknya yang sejalan dengan itu. Ia juga memiliki keseimbangan. besar dari telinga dalamnya yang juga terlihat sangat mirip dengan telinga burung modern."

Menurut Angela Milner dari Natural History Museum, "Penelitian kami sebelumnya telah menemukan bagian telinga burung modern berfungsi sebagai pengatur keseimbangan, dan kami melihat bahwa Archæopteryx juga sama."

Gigi
Gigi terdapat di mulut Archæopteryx
Archæopteryx yang memiliki gigi memang terlihat aneh untuk seekor burung masa kini. Tapi bagi burung-burung prasejarah, struktur ini sangat umum ditemukan, sementara angsa pun dalam paruhnya memiliki struktur mirip gigi. Gigi bukanlah mutlak ciri khas reptil, sebab tidak semua reptil (termasuk juga dinosaurus) itu punya gigi. Beberapa amfibi dan ikan memiliki gigi yang lainnya tidak. Kebanyakkan mamalia adalah bergigi, namun beberapa tidak. Lebih penting lagi, gigi yang terdapat pada burung prasejarah berbeda dengan gigi pada dinosaurus theropoda. Mereka juga memiliki metode gigi tumbuh dan penggantian yang berbeda.




Penelitian dari ahli burung LD Martin, JD Stewart, dan KN Whetstone, menyebutkan gigi  yang terdapat pada burung prasejarah memiliki akar luas dan rata pada bagian atasnya, sementara gigi dinosarus theropoda sebalikannya, akar sempit dan pada bagian atasnya tidak rata. Banyak burung prasejarah lainnya yang ditemukan dengan ciri sayap bercakar serta gigi di mulutnya, diantaranya adalah burung Sinornis, Shanweiniao, Ichthyornis, Iberomesornis, Longipteryx, dan Cathayornis.

Bentuk 'gigi' juga di temui pada beberapa burung masa kini, seperti burung merganster.
Banyak klaim yang menyatakan karena Archæopteryx bergigi, maka ia dikatakan 'primitif'. Namun apakah seorang nenek yang giginya ompong adalah modern sementara pemuda adalah primitif? Apakah trenggiling, paus, dan pemakan semut adalah mamalia primitif karena tidak memiliki gigi, sementara kucing adalah mamalia modern? Gigi tidak menjadi penentu apakah makhluk ini primitif atau tidak.

Gigi Archæopteryx tidak akan menghambat kemampuan terbangnya. Kelelawar adalah salah satu makhluk penerbang baik yang memiliki gigi.

Rongga Mata
Davis dari University of California, berdasarkan studinya terhadap 77 spesies burung, menyimpulkan bahwa dapat memprediksi gaya hidup spesies hanya dengan mengukur tulang yang berada disekitar mata. Tiap pupil burung di kelilingi tulang segmen yang di sebut cincin scleral. Diameter luar-dalam dari cincin ini dengan kombinasi kedalaman orbitnya dapat memprediksi kapan burung aktif. Lalu ahli biologi Lars Schmitz membuat pengukuran detail untuk melihat apa yang terdapat pada fosil Archæopteryx. Hasilnya, Archæopteryx menunjukkan bahwa cincin scleral Archæopteryx lebar meluas dan bentuk rongga matanya mendalam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Archæopteryx kemungkinan adalah makhluk nokturnal, seperti burung hantu modern. Rincian dari studi ini telah dipublikasikan dalam Vision Research.

Rahang
Bentuk moncong pun membuktikan Archæopteryx adalah seekor burung. Sebagian besar hewan vertebrata, termasuk reptil, hanya rahang bawah yang bisa bergerak, namun pada burung rahang atasnya juga bisa digerakkan. Bernd Haubitz dan rekan-rekannya melakukan analisis dengan komputasi tomografi untuk mengungkap tulang quadrate (sambungan tulang rahang) Archæopteryx. Hasilnya mereka memiliki bentuk doubled-headed yang sangat identik dengan burung masa kini. Archæopteryx memiliki kedua rahang yang dapat digerakkan seperti burung.


Lubang Hidung
Kiwi
Pada umumnya burung memiliki lubang hidung yang terletak di belakang paruh, dekat dengan mata. Bentuk lubang hidung Archæopteryx yang berada di ujung paruhnya sama seperti burung kiwi (Apteryx sp) dari Selandia baru. Bentuk seperti itu tidak membuat burung kiwi menjadi burung primitif atau "burung berfitur reptil." Sementara burung kasuari (Casuarius sp) yang hidup di Papua dan Australia dan burung emu (Dromaius novaehollandiae) yang hidup di Australia, mereka memiliki lubang hidung disekitar ujung paruh. Pada burung unta, burung rhea, burung camar, itik abu-abu, angsa whooper, angsa salju, angsa kanada, burung stone-curlew, dan pinguin afrika memiliki lubang hidung di tengah paruh.

Tengkorak

Perbandingan tengkorak antara dinosaurus dan burung juga menunjukkan tidak ada kesamaan. Sebagai hasil dari investigasi yang dilakukan pada tahun 1999, Dr Andrzej Elzanowski, kepala Zoologi Vertebrata di Polandia Zoologi Institute, menyimpulkan bahwa tidak ada bentuk serupa antara rahang dan langit-langit mulut dinosaurus theropoda dan burung. Juga, saat tengkorak Archæopteryx spesimen London dipelajari, terbukti sama dengan burung. 

Paleontolog Michele Benton menyatakan, "Studi kami membuktikan bahwa tengkorak Archæopteryx jauh lebih besar dan lebih mirip dari yang diperkirakan sebelumnya. Detil otak dan tulang di bagian belakang tengkorak tampak menunjukkan bahwa Archæopteryx bukanlah nenek moyang burung, tetapi merupakan seekor burung pertama."

Di sisi lain, syaraf oftalmik pada semua theropoda berada disekitar selaput tengkorak di luar bersama dengan syaraf tertentu lainnya. Pada Archæopteryx dan semua burung, syaraf yang sama melewati lubang khusus di bagian depan tengkorak.

Detil tengkorak Archæopteryx, yaitu otak, telinga dalam, syaraf oftalmik, indra penglihatan, rongga mata, lubang hidung, dan rahang jelas memiliki kesamaan dengan burung masa kini.

Sistem Pernapasan
Tulang berongga Archæopteryx berhubungan dengan kantung udara dan sistem pernapasan. Ruas-ruas tulang leher pada spesimen Berlin, dan vertebra thoracal depan serta tulang iga depan yang berongga pada spesimen Eichsta menunjukkan adanya kantung udara. Pada spesimen London juga memiliki vertebra thoracal depan yang berongga. Ini menunjukan mereka memiliki kantung udara anterior. Ditambah lagi, panggul pada spesimen London menunjukan tanda-tanda jelas adanya kantung udara posterior. Bukti pinggang dan kaki berongga juga telah ditemukan. Burung masa kini juga memiliki kantung udara  anterior dan posterior yang membantu pernapasan mereka saat terbang maupun istirahat. 

Fitur yang luar biasa dari burung yang masih ada pada Archæopteryx adalah struktur paru-paru mereka. Tulang rusuk berengsel dan adanya tulang dada diperlukan untuk menjaga aliran udara di paru-paru. Dengan bentuk paru-paru dan kantung udaranya yang mirip burung, membuktikan bahwa Archæopteryx memiliki mekanisme pernapasan seperti burung masa kini, saat terbang atau saat istirahat bertengger di pepohonan. Paru-paru hewan darat tak dapat menyediakan kebutuhan oksigen yang diperlukan oleh burung. Kebutuhan oksigen burung jauh lebih tinggi dibandingkan hewan darat, karenanya burung memiliki desain yang sangat berbeda dari hewan darat.

Sementara itu, bentuk paru-paru dinosaurus theropoda selama Era Mesozoic adalah mirip buaya dengan adanya sebuah diafragma, artinya Archæopteryx memiliki prinsip kerja yang jelas berbeda dengan dinosaurus. Dan ahli fisiologi Ruben menyatakan bahwa ini tidak mungkin menjadi keuntungan selektif evolusi.

Tulang Dada
Fosil ke-7 Archæopteryx yang ditemukan pada tahun 1991, spesimen Munich atau dikenal juga dengan spesimen Solnhofen-Aktien and Verein, menunjukkan bahwa mereka memiliki sternum atau tulang dada, struktur yang juga terdapat pada burung modern, dan bahkan pada kelelawar. Tulang dada pipih ini menjadi bukti terpasangnya otot-otot yang kuat dan kemampuan terbang yang kuat. Tulang dada ini secara struktural membuat stabil selama penerbangan.

Dalam majalah Nature dijelaskan bahwa spesimen ketujuh Archæopteryx yang diketemukannya sebuah sternum berbentuk persegi panjang yang selama ini tak pernah terdokumentasikan, ini membuktikan Archæopteryx memiliki otot kuat yang digunakan saat terbang.


Hoatzin dari Amerika Selatan mampu terbang meski mereka memiliki tulang dada yang relatif kecil dan pipih, sama seperti Archæopteryx.

Furcula
Tulang furcula atau tulang garpu atau wishbone yang berbentuk "V" pada Archæopteryx dibentuk dari dua tulang selangka yang menyatu dan berada di tengah tubuh. Tulang furcula besar ini disesuaikan sebagai tempat utama dari melekatnya otot dada (pectoralis) yang  kuat guna berfungsinya sayap. Ini adalah salah satu bukti besar mereka penerbang yang kuat. Tulang ini seukuran dengan burung modern, sangat khas ditemukan pada burung. Dokter medis Gerhard Heilmann, mencatat furcula pada theropoda sangat berbeda dari yang burung. Dinosaurus theropoda tidak memiliki collar bone atau selangka dimana ini bersatu dengan furcula pada burung.

David Menton menyebutkan, "Archæopteryx memiliki furcula kuat dan fleksibel. Beberapa penelitian pergerakan burung melalui sinar-x menunjukan gerakan bahu harus lentur untuk menyesuaikan dengan kekuatan tinggi saat terbang. Kau dapat melihat kelenturan furcula itu pada tiap kepakan sayap."

Alan Feduccia dan Storrs Olson menjelaskan kesalahpahaman gagasan dasar dalam anatomi burung. Mereka mencatat bahwa struktur furcula pada Archæopteryx adalah cukup kuat untuk memungkinkan hadirnya otot pektoral yang berkembang dengan baik yang diperlukan untuk pemulihan gerakan sayap saat terbang. Berdasarkan data eksperimentalnya, mereka menyebutkan bahwa tulang dada Archæopteryx yang diyakini tidak ada oleh orang-orang sehingga disimpulkan tidak dapat terbang, adalah kompleks fungsional tunggal yang bukan syarat utama untuk terbang, melainkan untuk lebih melengkapi saja. Karenanya, bukti bahwa Archæopteryx adalah makhluk penghuni tanah adalah tidak benar. Tak ada bentuk sekitar dada Archæopteryx yang akan menghambat mereka, karena mereka sudah menjadi penerbang yang handal.

Ekor
Ekor Archæopteryx dan ekor dinosaurus, keduanya sama-sama panjang dan terbuat dari serangkaian vertebra. Pada ekor dinosaurus, terdapat duri/spine di atas dan di bawah pada tiap vertebranya yang yang lebih panjang daripada di Archæopteryx. Duri ini (dikenal juga dengan sebutan ekstensi/extensions atau arches) memungkinkan melekatnya otot, sehingga ekor dinosaurus memiliki bentuk panjang dan tebal, ekornya berotot. Archæopteryx juga memiliki tulang ekor yang panjang, tetapi durinya pada tulangnya terbatas dan ukurannya lebih kecil daripada yang dimiliki dinosaurus, sehingga Archæopteryx memiliki ekor yang relatif panjang tipis daripada tebal. Selain itu pada beberapa fosil Archæopteryx tidak dijumpai bentuk duri di ekornya. Ekor Archæopteryx juga memiliki sepasang bulu yang melekat pada masing-masing tulang ekor vertebranya yang tidak saling menyatu, sedangkan ekor dinosaurus tidak.

Tulang ekor dinosaurus memiliki duri hingga ujung (meski tambah kecil)

Tulang ekor pada fosil Archæopteryx spesimen Eichstätt memilikiduri terbatas, hanya terdapat dibagian awal ekor saja.

Ekor Archæopteryx memiliki bulu di ekornya dan pada spesimen London ini tidak terlihat duri.

Dinosaurus menggunakan ekornya sebagai kemudi untuk bagian depan tubuh saat mereka berjalan, sehingga mereka membutuhkan ekor yang relatif berat dan mereka juga butuh otot ekor sehingga mengangkat ekor dari tanah saat mereka berjalan.

Namun, Archæopteryx berbeda, mereka menggunakan ekornya untuk menghasilkan gaya angkat ketika mereka terbang. Apabila ekor mereka berat tentu mereka tidak dapat melakukannya, karenanya Archæopteryx memiliki desain ekor ringan guna memaksimalkan gaya angkat. Ekor mereka bahkan jauh lebih ringan daripada burung saat ini, yang memiliki ekor yang lebih pendek. Ekor yang ringan tidak memerlukan banyak otot, dan akibatnya bobot tubuh mereka berkurang. Anatomi ekor Archæopteryx menunjukkan bahwa ia telah dirancang aerodinamis dan ringan, bukan untuk keseimbangan tubuh saat berjalan di tanah. Mereka adalah hewan arboreal dan terbang, bukan penghuni tanah.

Burung prasejarah Eoalulavis juga memiliki ekor panjang .

Tulang ekor panjang pada pinguin.
Kenyataan bahwa Archæopteryx memiliki ekor panjang tidak menjadikan bukti itu berasal dari dinosaurus. Dibutuhkan penemuan bukti berupa bentuk peralihan sesungguhnya, bukan mosaik. Bentuk peralihan ini harus memiliki organ yang kurang, hilang, berbentuk setengah atau tidak berfunggsi sepenuhnya. Sebaliknya, semua organ mosaik hewan ini adalah berbentuk utuh dan sempurna. Beberapa mamalia pun memiliki ekor panjang, jadi ini bukanlah ciri reptila.

Alan Feduccia menyatakan; "Ekor Archæopteryx telah dirancang agar dapat memiliki daya angkat saat mereka terbang."

Alan Feduccia juga berkata, "Secara biofisik ini mustahil proses terbang berevolusi dari makhluk berkaki dua yang ukurannya besar dengan tangan terlalu pendek dan kendali ekor yang berat." Dengan kata lain, ekor berat, besar dari dinosaurus berkaki dua tidak kondusif untuk evolusi terbang.

Archæopteryx dan Burung Lainnya
Selain Archæopteryx, diketahui banyak burung lain yang hidup seusia dengannya. Kebanyakkan mereka memiliki fitur-fitur unik seperti Archæopteryx, namun ada pula yang tidak. Burung itu diantaranya, Confuciusornis, Cuspirostrisornis, Sinornis, Wellnhoferia, dan Jeholornis. Beberapa burung modern juga berada di strata yang sama dengan Archæopteryx. Burung-burung prasejarah seperti Jeholornis, Dalianraptor, Dalingheornis, dan Wellnhoferia, memiliki ciri gigi, cakar di sayapnya, dan ekor panjang, sama seperti Archæopteryx. Cetakan burung modern telah ditemukan di batuan Jurassic dalam situs di Colorado Timur, Utah, dan Prancis. Jejak burung bahkan diketahui ada sebelum Archæopteryx hidup, dan juga setelah mereka hidup. Fitur unik pada Archæopteryx pun bisa ditemukan pada burung masa kini dan hewan lainnya.

Burung prasejarah yang hidup di zaman yang sama dengan Archæopteryx.

Archæopteryx Mampu Terbang 
Penemuan beberapa ciri burung terbang modern yang terdapat pada Archæopteryx seperti sayap, struktur bulu yang asimetris dan kompleks, furcula, sternum, struktur rangka, struktur otak, bentuk telinga dalam, dan paru-paru, menjadi bukti kuat bahwa Archæopteryx mampu mengudara dengan baik. Bukti-bukti dari osteologi daerah dada Archæopteryx menunjukkan bahwa Archæopteryx memiliki otot terbang yang kuat dan merupakan penerbang yang kuat. Kekuatan otot utama dari burung untuk dapat terbang adalah melekat pada tulang furcula, dan Archæopteryx memiliki sebuah furcula yang sangat kuat dan fleksibel. Indikator lain untuk penerbangan yang kuat adalah otot coracoid. Coracoid pada Archæopteryx adalah tipe awal dari coracoid burung modern, ini menunjukkan bentuk penopang. Bentuk ini memungkinkan mekanisme saling tersambung ke sternum, di mana ia berfungsi sebagai penahan untuk mencegah hancurnya dada depan oleh kekuatan tekan yang kuat. Bentuk kaki yang diadaptasikan untuk bertengger juga makin memperjelas bahwa mereka bisa terbang. Sementara anatomi ekor Archæopteryx menunjukkan aerodinamis saat mereka mengudara. Sistem aerodinamika tubuhnya yang fungsional sangat memungkinkan mereka untuk terbang. Archæopteryx 100% jelas bisa terbang. Jadi mengapa Archæopteryx dikatakan "primitif"?

Pada 1984 di Eichstätt, Jerman, digelar International Archaeopteryx Conference, sebuah pertemuan besar para ilmuwan yang berspesialisasi dalam evolusi burung. Mereka sepakat bahwa Archæopteryx seekor burung sejati. Pada tahun 1985 Journal of Vertebrate Paleontology melaporkan bahwa persetujuan umum dari evolusionis yang hadir adalah Archæopteryx mampu terbang."(Peter Dodson, Conference Report of the International Archaeopteryx Conference, Journal of Vertebrate Paleontology, June 1985, p. 179). 

Professor Jeremy Rayner mengatakan, "Fitur yang paling mencolok dari Archæopteryx adalah sayap berkembang dengan baik, sayap berbulu ini tidak berbeda dalam segi ukuran maupun bentuk dengan burung modern. Dan ini memberikan indikasi bahwa Archæopteryx adalah seekor burung terbang. Bulu-bulunya juga menjadi bukti kuat kemampuan terbang mereka."

Dr. Angela Milner menerangkan, "Ini semua menunjukkan bahwa perkembangan otak burung sejalan dengan struktur fisik, misalnya sayap, yang memungkinkan mereka untuk terbang." Ia juga berkomentar, "Sekarang kami tahu bahwa Archæopteryx mampu mengendalikan tugas yang kompleks saat terbang, ini menimbulkan pertanyaan lebih."

Pakar anatomi fosil, Larry Witmer, menyebutkan, "Mayoritas ilmuwan kini menerima bahwa hewan ini bisa mengudara."

"Burung dibentuk untuk terbang, begitu juga Archæopteryx", ungkap Dr. David Menton dari Washington University School of Medicine di St Louis, Missouri.

Sementara itu, jurnal Science menerangkan, "Bukti penerbangan Archæopteryx telah ada untuk lebih dari 100 tahun." (Alan Feduccia and Harrison B. Tordoff, “Feathers of Archaeopteryx: Asymmetric Vanes Indicate Aerodynamic Function,” Science, vol. 203, 9 March 1979, p. 1021).

"Archæopteryx adalah burung asli, mereka memiliki sayap dan memiliki bulu. Mereka mampu terbang, mereka bukan setengah burung, tetapi seekor burung." (Gish, 1978, p. 84). 

"Makna dari ciri asimetris adalah mereka menunjukkan kemampuan terbang, burung yang tidak bisa terbang seperti burung unta dan emu punya sayap bulu simetris." (E. Olsen and Feduccia, "Flight Capability and the Pectoral Girdle of Archaeopteryx," Nature, 1979, p. 248). 

"Tak ada struktur bagian dada Archæopteryx yang menjadi penghalang kekuatan terbangnya." (Alan Feduccia and Storrs L. Olson, “Flight capability and the pectoral girdle of Archaeopteryx.” Nature, vol. 278, 15 March 1979, p. 248). 

"Tidak diragukan lagi, Archæopteryx adalah hewan berbulu dan terbang. Mereka adalah burung!" (Gish, "As a Transitional Form, Archaeopteryx Won't Fly", ICR Impact, September 1989). 

"Kehadiran tulang dada membuktikan bahwa Archæopteryx adalah seekor burung terbang." (34- Nature, Vol 382, 1 August 1996, p. 401).
Peralihan?
Tak bisa diragukan, Archæopteryx adalah burung unik. Fakta bahwa ia memiliki beberapa fitur yang mirip dengan reptil hanya berarti bahwa ia memiliki beberapa fitur yang mirip dengan reptil. Bukti ini tentu tidak cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa Archæopteryx adalah hewan peralihan. Fitur-fitur yang bisa dibandingkan dengan reptil juga telah ditemukan pada burung yang hidup di masa lalu, dan bahkan pada burung lain masih hidup saat ini.  Archæopteryx bukanlah bentuk transisi tetapi jelas burung, hal ini tidak dapat dibuktikan sebagai evolusi atau bahkan mendukungnya dengan cara apapun. tidak dapat dibuktikan sebagai evolusi atau bahkan mendukungnya dengan cara apapun. Hal ini bahkan diungkapkan oleh ilmuwan-ilmuwan evolusionis. 

Biofisika Prancis Pierre Lecomte mengatakan, "Kami tidak yakin bahwa Archæopteryx adalah asli sebagai link. Link kami artikan sebagai tahap penting transisi antara dua kelas berbeda, seperti reptil dan burung atau antara grup yang lebih kecil lainnya. Hewan yang menunjukkan karakter milik dua grup berbeda tidak bisa dianggap sebagai link sebenarnya, sementara tahap penengah tidak pernah ditemukan, dan sejauh ini jejak mekanisme transisi tidak diketahui." (Human Destiny (New York: Longmaus, Green and Co., 1947), quoted in: Hank Hanegraaff, The Face That Demonstrates the Farce of Evolution, Nashville: Word, 1998, 37).

Tidak adanya bentuk peralihan ini menjadikan dilema, juga disuarakan oleh Heiser Pough dan McFarland dalam artikel Vertebrate Life mereka.

"Tidak ada peralihan fosil link Archæopteryx dengan beberapa group yang memungkinkan mereka berevolusi." (Vertebrate Life, 3rd ed, New York: McMillan, 1989, pp. 468, 470).

"Sudah jelas bahwa Archæopteryx adalah burung, ditunjukkan dengan tengkorak mirip burung,  kaki bertengger kaki, sayap, bulu, dan tulang furcula. Tak ada hewan lain kecuali burung yang memiliki bulu dan furcula." (Duane Gish, Evolution: The Challenge of the Fossil Record, 1985, p. 112).

Paleontologis dari University of Kansas, Larry Martin, juga menyebutkan, "Archæopteryx bukan nenek moyang burung modern, malah secara keseluruhan mereka termasuk grup burung yang sudah punah." (quoted in Icons of Evolution, Jonathan Wells, p. 116).

Professor Alan Feduccia dari University of North Carolina, memaparkan, "Archæopteryx mungkin tidak akan bisa menjelaskan banyak awal bulu dan terbang pada burung pertama asli, sebab Archæopteryx adalah dalam pengertian modern, seekor burung." (Science 259:790-793 in 1993). 

Ia juga menyatakan, "Para ahli fosil telah mencoba untuk mebuat peralihan Archæopteryx pada tanah-melompat, seekor dinosaurus berbulu. Tapi ini bukan seperti itu. Mereka adalah seekor burung, burung bertengger." (Archaeopteryx: Early Bird Catches a Can of Worms by V. Morell, Science 259 (5096):764–65, 5 February 1993).

"Kita menyaksikan seluruh struktur kompleks burung muncul menjadi ada secara tiba-tiba dalam Archæopteryx. Tidak terdapat "burung-burung primitif" bersayap. Tidak ada  "penerbangan primitif". Keyakinan tentang adanya paru-paru burung primitif juga sungguh tidak mungkin, sebab paru-paru unggas, yang sangat berbeda secara struktural dari paru-paru reptilia dan mamalia, memiliki struktur rumit yang tak tersederhanakan." (Michael Denton, A Theory in Crisis, Adler & Adler, 1986, page 210-212) .

Dalam volume kedua pada Modern Creation Trilogy, mengenai Archæopteryx, Henry Morris dan John Morris menyatakan, "Archæopteryx adalah "mosaik" dari struktur yang berguna dan berfungsi ditemukan juga dalam makhluk lain, bukan "transisi" di antara mereka. Struktur transisi sejati katakanlah, "sceather", yaitu, setengah-bulu setengah-sisik, atau "link" setengah kaki, setengah sayap, atau, mungkin setengah hati, jantung, atau mata. Struktur transisi semacam itu, bagaimanapun tidak akan bertahan dalam perjuangan untuk hidup." (1996, 2:70).

Platypus
Fitur yang ditemukan sama pada dua kelompok berbeda, tidak menjadikan suatu peralihan, atau kekerabatan. Platypus (Ornithorhynchus anatinus), disaat yang sama mereka memiliki ciri mamalia, reptil, dan burung sekaligus. Tidak diragukan lagi bahwa platypus itu jauh asing daripada Archæopteryx, namun tak membuat platypus menjadi hewan peralihan. Dinosaurus seperti Hadrosaurus memiliki bentuk tulang panggul burung serta berparuh seperti bebek, tetapi ini tidak menjadikan Hadrosaurus sebagai peralihan reptil-burung. Kemudian, burung modern diketahui memiliki sayap bercakar seperti Hoatzin dan beberapa burung modern lain saat muda. Burung modern itu tak membuat mereka menjadi bentuk peralihan. Juga ada laba-laba dan serangga memiliki rambut. Rambut adalah fitur khas dari mamalia, namun serangga dan mamalia tidak jadi saling berhubungan karena rambutnya.

Archæopteryx adalah jelas bukan semi dinosaurus, organisme semi burung. Tuduhan bahwa ia tidak dapat terbang sepenuhnya jelas tidak valid. Archæopteryx adalah seekor burung, berbulu dan berdarah panas yang bisa terbang seperti burung pada umumnya.



Reaksi: 

Bintang:

{[['']]}

Sukai:

Bagikan:

2 komentar:

  1. Wawan Rupawan dan Dermawan11 Januari 2011 17.49

    saya pernah liat replika fosil hewan ini di museum geologi bandung....

    BalasHapus

  2. ayo segera bergabung dengan kami
    di fanspoker^^com || karna difans anda bisa mendapatkan keuntungan lebih besar
    ayo tunggu apa lagi segera di add pin bb kami 55F97BD0 || saya tunggu di add nya ya...

    BalasHapus

 
TOP