Loading...
Minggu, 10 Oktober 2010

Kepunahan Dinosaurus: Teori Perubahan Iklim Dingin


Para ilmuwan berpendapat karena pergeseran daratan pada akhir zaman Kapur, aliran arus air laut berubah dan iklim pun ikut berubah. Para ilmuwan juga menemukan bukti bahwa tumbukan asteroid atau komet yang memusnahkan dinosaurus 65 juta tahun lalu, telah diikuti oleh musim dingin berkepanjangan di Bumi. Mereka menemukan batu-batu di Tunisia yang berisi fosil makhluk-makhluk mikroskopis dari perairan dingin yang masuk wilayah panas, tepat pada kurun waktu setelah terjadinya tumbukan.
Bumi mengalami musim dingi berkepanjangan setelah tumbukan asteroid 65 juta tahun lalu
Impact  winter adalah periode cuaca dingin panjang yang disebabkan oleh impact pada bumi. Bila impact seperti ini terjadi di darat atau dasar laut yang dangkal, hal ini dapat menyebabkan banyak debu terbang di atmosfer bumi dan awan partikel sulfat yang berhamburan ke udara, sehingga menutupi cahaya Matahari.


Diperkirakan akibat benturan asteroid, bumi mengalami kegelapan dan musin dingin mendadak selama 10.000 tahun! Makhluk-makhluk dari perairan dingin tidak mungkin bisa bergerak ke wilayah panas bila suhu disana tetap panas. Artinya, saat itu suhu diduga telah menjadi dingin.

Tergantung dari ukuran obyek, dan lokasi dan sudut jatuhnya, ada dua kemungkinan materi dapat jatuh ke atmosfer:
1.                  Impact dapat mengeluarkan sejumlah besar regolith (dan mungkin bedrock hancur) ke atmosfer.
2.                 Impact dapat terjadi di daerah berhutan lebat seperti di Amazonia atau Siberia. Hal ini dapat menyebabkan kebakaran besar, melemparkan banyak asap dan abu ke atmosfer.

Skenario kedua adalah yang lebih berbahaya, karena partikel-partikel kecil dari api dapat melayang selama mingguan atau bahkan bulanan sebelum kembali ke Bumi, dan dapat disebarkan oleh jet stream ke seluruh dunia, sehingga terjadi pendinginan global.

Dalam laporan di journal Geolog, disebutkan para ilmuwan Italia, AS dan Belanda mendapatkan bukti ketika mereka meneliti bebatuan di El Kef, Tunisia. Bebatuan itu berada pada lapisan "batas Cretaceous-Tertiary" atau sering disebut K-T boundary, lapisan batuan yang berasal dari masa ketika dinosaurus punah. Pada masa dinosaurus menjelajahi Bumi, El-Kef adalah bagian dari Laut Tethys bagian barat yang bersuhu hangat. Namun saat para ilmuwan meneliti jenis-jenis fosil makhluk mikroskopis dari bebatuan itu, mereka menemukan hal-hal aneh.

Pertama, dijumpai dua spesies baru benthic foraminifera  (hewan sederhana yang hidup di dasar laut). Makhluk ini adalah jenis yang seharusnya hidup di perairan dingin di daerah utara.
Benthic foraminifera
Kedua, mereka menemukan perbedaan aneh dalam hal bentuk makhluk kecil serupa siput yang disebut Cibicidoides pseudoacutus. Cangkang makhluk ini ditemukan menggulung ke sisi kiri maupun kanan. Di perairan dingin, lebih banyak ditemukan Cibicidoides pseudoacutus dengan cangkang menggulung ke kanan, sedangkan di perairan hangat arahnya berkebalikan.
Cibicidoides pseudoacutus
Nah, pada lapisan di atas C-T boundary di El-Kef, para ilmuwan menemukan banyak Cibicidoides dengan cangkang menggulung ke kanan. Padahal seharusnya ke kiri. Hal itu menimbulkan dugaan bahwa air di sana dahulu dingin.

"Ini adalah kali pertama kami menemukan bukti fisik adanya pendinginan di C-T boundary," kata Dr Simone Galeotti dari Universitas Urbino, Italia.

Dr Galeotti dan rekan-rekannya menduga penyebab pendinginan iklim yang paling mungkin adalah awan polutan partikel sulfat, atau aerosol, yang telah menghambat sinar Matahari.

Seperti disebut di atas, awan sulfat ini membumbung ke udara saat asteroid menghantam bebatuan kaya garam sulfat di Chicxulub. Menurut perhitungan Matthew Huber, peneliti dari Universitas Purdue di Indiana, AS, awan debu akibat tumbukan telah menutup sinar matahari hingga 90 persen, sehingga Bumi menjadi dingin.



Reaksi: 

Bintang:

{[['']]}

Sukai:

Bagikan:

1 komentar:

  1. bingung mau ngapain
    mari bergabung dengan kami difans poker

    BalasHapus

 
TOP